Kamis, 23 April 2026

Kuliah XII – Evaluasi Radiografi Tulang (Skeletal Radiography)

 Evaluasi radiografi tulang adalah proses menilai foto rontgen tulang secara sistematis untuk menentukan apakah terdapat kelainan seperti fraktur, dislokasi, infeksi, atau tumor tulang.

Agar tidak ada kelainan yang terlewat, radiolog biasanya menggunakan pendekatan sistematis ABCS.


1. Prinsip Evaluasi Radiografi Tulang

Sebelum membaca kelainan, radiografi harus dievaluasi terlebih dahulu.

Hal yang diperiksa:

a. Identitas dan sisi tubuh

  • Nama pasien
  • Tanggal pemeriksaan
  • Marker R (Right) atau L (Left)

b. Posisi dan proyeksi

Radiografi tulang biasanya minimal 2 proyeksi:

  • AP (Anteroposterior)
  • Lateral

Tujuannya agar fraktur tidak tersembunyi.

Contoh:
Fraktur radius kadang tidak terlihat pada satu proyeksi saja.



2. Metode ABCS dalam Evaluasi Tulang

Metode ABCS digunakan untuk membaca radiografi tulang secara sistematis.


A – Alignment (Keselarasan Tulang)

Alignment menilai apakah posisi tulang masih sejajar secara normal.

Hal yang diperhatikan:

  • garis tulang
  • hubungan antar tulang
  • posisi sendi

Kelainan alignment dapat berupa:

1. Dislokasi

Tulang keluar dari sendi.

Contoh:

  • dislokasi bahu
  • dislokasi siku

2. Subluksasi

Dislokasi sebagian.

3. Malalignment akibat fraktur

Misalnya:

  • angulation
  • rotation
  • shortening

Contoh klinis:
Pada fraktur femur, fragmen tulang bisa bergeser dan tidak lagi satu garis.





B – Bone Density (Kepadatan Tulang)

Bone density menilai warna tulang pada radiografi.

Pada X-ray:

  • tulang normal → putih terang
  • jaringan lunak → abu-abu
  • udara → hitam

Kelainan bone density:

1. Osteoporosis

Tulang tampak lebih radiolusen (lebih gelap).

2. Osteosklerosis

Tulang tampak lebih putih dari normal.

3. Lesi litik

Area tulang tampak berlubang / radiolusen.

Contoh penyakit:

  • metastasis tulang
  • tumor tulang
  • osteomyelitis

C – Cartilage / Joint Space

Kartilago tidak terlihat pada X-ray, tetapi ruang sendi dapat terlihat.

Yang dinilai:

  • lebar ruang sendi
  • kesimetrisan sendi
  • permukaan tulang sendi

Kelainan yang dapat ditemukan:

1. Penyempitan ruang sendi

Sering terjadi pada:

  • osteoarthritis

2. Pelebaran ruang sendi

Bisa terjadi pada:

  • efusi sendi
  • cedera ligament

3. Erosi tulang sendi

Terjadi pada:

  • rheumatoid arthritis

S – Soft Tissue (Jaringan Lunak)

Walaupun fokus pada tulang, jaringan lunak tetap harus diperiksa.

Hal yang dilihat:

  • pembengkakan jaringan lunak
  • kalsifikasi
  • benda asing

Contoh:

1. Soft tissue swelling

Sering muncul pada trauma atau fraktur.

2. Gas pada jaringan lunak

Bisa menunjukkan infeksi berat (gas gangrene).

3. Kalsifikasi jaringan lunak

Contoh:

  • myositis ossificans

3. Identifikasi Fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang.

Ciri radiologi fraktur:

  • garis fraktur (fracture line)
  • pergeseran fragmen
  • angulasi
  • shortening

Jenis fraktur yang sering terlihat:

1. Fraktur transversal

Garis patah lurus.

2. Fraktur oblique

Garis patah miring.

3. Fraktur spiral

Garis patah memutar.

4. Fraktur comminuted

Tulang pecah menjadi beberapa bagian.

5. Greenstick fracture

Sering pada anak-anak.




4. Dislokasi

Dislokasi adalah perpindahan tulang dari posisi normal pada sendi.

Contoh:

Dislokasi bahu

Kepala humerus keluar dari glenoid.

Dislokasi siku

Radius dan ulna bergeser dari humerus.

Pada radiografi terlihat:

  • sendi tidak sejajar
  • kepala tulang keluar dari sendi

5. Lesi Tulang

Lesi tulang dapat berupa:

Lesi jinak

Contoh:

  • bone cyst
  • osteochondroma

Lesi ganas

Contoh:

  • osteosarcoma
  • metastasis tulang

Ciri radiologi:

  • destruksi tulang
  • reaksi periosteal
  • massa jaringan lunak





Tidak ada komentar:

Posting Komentar