Evaluasi radiografi tulang adalah proses menilai foto rontgen tulang secara sistematis untuk menentukan apakah terdapat kelainan seperti fraktur, dislokasi, infeksi, atau tumor tulang.
Agar tidak ada kelainan yang terlewat, radiolog biasanya menggunakan pendekatan sistematis ABCS.
1. Prinsip Evaluasi Radiografi Tulang
Sebelum membaca kelainan, radiografi harus dievaluasi terlebih dahulu.
Hal yang diperiksa:
a. Identitas dan sisi tubuh
- Nama pasien
- Tanggal pemeriksaan
- Marker R (Right) atau L (Left)
b. Posisi dan proyeksi
Radiografi tulang biasanya minimal 2 proyeksi:
- AP (Anteroposterior)
- Lateral
Tujuannya agar fraktur tidak tersembunyi.
Contoh:
Fraktur radius kadang tidak terlihat pada satu proyeksi saja.
2. Metode ABCS dalam Evaluasi Tulang
Metode ABCS digunakan untuk membaca radiografi tulang secara sistematis.
A – Alignment (Keselarasan Tulang)
Alignment menilai apakah posisi tulang masih sejajar secara normal.
Hal yang diperhatikan:
- garis tulang
- hubungan antar tulang
- posisi sendi
Kelainan alignment dapat berupa:
1. Dislokasi
Tulang keluar dari sendi.
Contoh:
- dislokasi bahu
- dislokasi siku
2. Subluksasi
Dislokasi sebagian.
3. Malalignment akibat fraktur
Misalnya:
- angulation
- rotation
- shortening
Contoh klinis:
Pada fraktur femur, fragmen tulang bisa bergeser dan tidak lagi satu garis.
B – Bone Density (Kepadatan Tulang)
Bone density menilai warna tulang pada radiografi.
Pada X-ray:
- tulang normal → putih terang
- jaringan lunak → abu-abu
- udara → hitam
Kelainan bone density:
1. Osteoporosis
Tulang tampak lebih radiolusen (lebih gelap).
2. Osteosklerosis
Tulang tampak lebih putih dari normal.
3. Lesi litik
Area tulang tampak berlubang / radiolusen.
Contoh penyakit:
- metastasis tulang
- tumor tulang
- osteomyelitis
C – Cartilage / Joint Space
Kartilago tidak terlihat pada X-ray, tetapi ruang sendi dapat terlihat.
Yang dinilai:
- lebar ruang sendi
- kesimetrisan sendi
- permukaan tulang sendi
Kelainan yang dapat ditemukan:
1. Penyempitan ruang sendi
Sering terjadi pada:
- osteoarthritis
2. Pelebaran ruang sendi
Bisa terjadi pada:
- efusi sendi
- cedera ligament
3. Erosi tulang sendi
Terjadi pada:
- rheumatoid arthritis
S – Soft Tissue (Jaringan Lunak)
Walaupun fokus pada tulang, jaringan lunak tetap harus diperiksa.
Hal yang dilihat:
- pembengkakan jaringan lunak
- kalsifikasi
- benda asing
Contoh:
1. Soft tissue swelling
Sering muncul pada trauma atau fraktur.
2. Gas pada jaringan lunak
Bisa menunjukkan infeksi berat (gas gangrene).
3. Kalsifikasi jaringan lunak
Contoh:
- myositis ossificans
3. Identifikasi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang.
Ciri radiologi fraktur:
- garis fraktur (fracture line)
- pergeseran fragmen
- angulasi
- shortening
Jenis fraktur yang sering terlihat:
1. Fraktur transversal
Garis patah lurus.
2. Fraktur oblique
Garis patah miring.
3. Fraktur spiral
Garis patah memutar.
4. Fraktur comminuted
Tulang pecah menjadi beberapa bagian.
5. Greenstick fracture
Sering pada anak-anak.
4. Dislokasi
Dislokasi adalah perpindahan tulang dari posisi normal pada sendi.
Contoh:
Dislokasi bahu
Kepala humerus keluar dari glenoid.
Dislokasi siku
Radius dan ulna bergeser dari humerus.
Pada radiografi terlihat:
- sendi tidak sejajar
- kepala tulang keluar dari sendi
5. Lesi Tulang
Lesi tulang dapat berupa:
Lesi jinak
Contoh:
- bone cyst
- osteochondroma
Lesi ganas
Contoh:
- osteosarcoma
- metastasis tulang
Ciri radiologi:
- destruksi tulang
- reaksi periosteal
- massa jaringan lunak



Tidak ada komentar:
Posting Komentar