Senin, 23 Februari 2026

KULIAH I KRITISI EVALUASI RADIOGRAF: Pengantar Radiografi & Konsep Kritik Radiologis

SEJARAH

Sejarah penemuan sinar-X berawal dari perkembangan pesat ilmu fisika pada akhir abad ke-19. Pada masa itu, para ilmuwan di Eropa berlomba-lomba meneliti fenomena listrik dan radiasi dalam tabung hampa udara. Penelitian tentang sinar katoda menjadi fokus utama karena menunjukkan adanya pancaran energi yang belum sepenuhnya dipahami. Eksperimen ini membuka jalan bagi berbagai temuan baru dalam bidang fisika modern.

Salah satu ilmuwan yang aktif meneliti fenomena tersebut adalah Wilhelm Conrad Röntgen, seorang profesor fisika di Universitas Würzburg, Jerman. Ia dikenal sebagai peneliti yang teliti dan metodis. Pada tahun 1895, Röntgen melakukan eksperimen menggunakan tabung Crookes, yaitu tabung kaca hampa udara yang dialiri arus listrik tegangan tinggi untuk menghasilkan sinar katoda.

Pada tanggal 8 November 1895, saat laboratoriumnya dibuat gelap dan tabung sinar katoda ditutup kertas hitam tebal, Röntgen mengamati sesuatu yang tidak biasa. Ia melihat layar fluoresen yang dilapisi barium platinocyanide memancarkan cahaya meskipun sumber cahaya tertutup. Hal ini menunjukkan adanya radiasi tak terlihat yang mampu menembus bahan penutup tersebut.

Röntgen menyadari bahwa radiasi ini berbeda dari cahaya biasa. Ia melakukan percobaan lebih lanjut dengan meletakkan berbagai benda di antara tabung dan layar fluoresen. Ia menemukan bahwa kertas dan kayu dapat ditembus, tetapi logam dan tulang memberikan bayangan yang jelas. Karena belum mengetahui sifat radiasi tersebut, ia menamakannya sinar “X”, dengan huruf X melambangkan sesuatu yang belum diketahui.

Dalam eksperimen berikutnya, Röntgen mencoba memotret bagian tubuh manusia. Ia meminta istrinya, Bertha Röntgen, untuk meletakkan tangannya di depan pelat fotografi. Hasilnya adalah gambar tulang tangan dan cincin yang dikenakan istrinya. Radiograf tangan tersebut menjadi gambar sinar-X pertama dalam sejarah dan membuktikan potensi besar penemuan ini dalam dunia medis.

Pada akhir tahun 1895, Röntgen mempublikasikan temuannya dalam sebuah makalah ilmiah berjudul “Über eine neue Art von Strahlen” (Tentang Jenis Sinar yang Baru). Publikasi tersebut segera menarik perhatian komunitas ilmiah internasional. Dalam waktu singkat, laboratorium dan rumah sakit di berbagai negara mulai melakukan eksperimen serupa.

Penggunaan sinar-X dalam bidang kedokteran berkembang sangat cepat. Dokter mulai memanfaatkannya untuk mendeteksi fraktur tulang, peluru dalam tubuh tentara, serta kelainan lainnya tanpa harus melakukan pembedahan. Penemuan ini dianggap revolusioner karena untuk pertama kalinya struktur internal tubuh dapat dilihat tanpa tindakan invasif.

Atas jasanya yang luar biasa bagi ilmu pengetahuan, Röntgen dianugerahi Hadiah Nobel Fisika pertama pada tahun 1901. Ia memilih untuk tidak mematenkan penemuannya, dengan alasan bahwa sinar-X harus dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan umat manusia. Keputusan ini mempercepat penyebaran teknologi radiografi ke seluruh dunia.

Seiring waktu, teknologi sinar-X terus berkembang. Radiografi konvensional mengalami penyempurnaan dalam hal kualitas gambar dan keamanan radiasi. Perkembangan selanjutnya melahirkan teknologi pencitraan yang lebih canggih, seperti CT scan, yang memanfaatkan prinsip sinar-X untuk menghasilkan gambaran penampang tubuh secara lebih detail.

Hingga saat ini, sinar-X tetap menjadi salah satu pilar utama dalam dunia radiologi dan diagnostik medis. Penemuan yang bermula dari eksperimen sederhana di laboratorium Würzburg tersebut telah mengubah praktik kedokteran secara fundamental. Sejarah penemuan sinar-X bukan hanya kisah tentang radiasi, tetapi juga tentang rasa ingin tahu ilmiah, ketelitian penelitian, dan dedikasi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar